Desa Majegan Lumbung Pangan Klaten Yang Masih Membutuhkan Air
#Desa Majegan Lumbung Pangan Klaten Yang Masih Membutuhkan Air
Siang ini kita mengunjungi Kepala Desa Majegan Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten, guna sharing dan diskusi, terkait pembangunan jalan beton yang baru saja selesai di Desanya, juga terkait dengan kenaikan harga gabah beserta program ketahanan pangan Nasional Jum’at (03/01/2025).
Dalam silaturahmi santai tersebut Kepala Desa Majegan Sri Widodo mengatakan “ya terkait jalan beton itu memang sengaja di percepat pengerjaannya, karena sudah mendekati akhir tahun kemarin, dan tidak ad acara khusus sih karena itu sifatnya hanya pembangunan infrastuktur guna memperlancar akses dan pergerakan warga dalam kegiatan perekonomian dan keseharian, kalau jalannya bagus kan juga semakin lancar to mas,” paparnya.
Disinggung terkait harga gabah yang diumumkan naik pada akhir tahun 2024 kemarin di Istana (30/12/2024), setelah Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas dengan para menteri, mengambil keputusan untuk pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering di tingkat petani HPP naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram, Sri Widodo mengatakan, “Ya dengan adanya keputusan pemerintah tersebut bagus lah, artinya ada keberpihakan pada sektor pertanian, kaitnya dengan penetapan harga standar, namun di samping itu hal tersebut juga berpotensi mengurangi keuntungan petani, sebab kalau dilihat harga saat ini saja Rp 8000 an, jadi lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pemerintah, lah itu nanti resikonya pas panen raya tinggal bagaimana apakah Bulog bertanggung jawab atau tidak, kemudian terkait kemudahan pupuk, itu masih dalam tahap informasi, faktanya di lapangan kita masih pakai kartu tani kok, kalau dulu kan hanya pakai KTP sekarang masih pakai kartu tani dan sesuai dengan RDKK atau kuotanya ditetapkan sesuai tanah garapannya, jadi sudah ada jatahnya misal per patok, per hektar selama 1 tahun itu kalo ga salah 4 kwintal sudah ga bisa lebih. ” Jelasnya.
Kemudian ditanyakan tanggapannya terkait program ketahanan pangan Kepala Desa mengatakan ” kalau menurut pandangan saya ya mas, artinya ini pandangan pribadi, karena saya melihat untuk Daerah saya Majegan ini kan memang daerah yang masih kesulitan air, jadi menurut saya lebih baik dikasih fasilitas daripada dikasih dana buat usaha, karena ini rawan sekali, ya memang ada juga yang berhasil setelah di kasih dana guna pengembangan ternak kambing misalnya, tapi kebanyakan banyak yang hilang jalannya alias ga jelas, menurut saya lebih baik dipergunakan buat penambahan fasilitas seperti sumur sunur penampungan air contohnya, sebab kalau musim kemarau kan kita terkendala di persoalan pasokan air tersebut, nah logikanya kalau ada air maka panen akan berhasil, namun bila tidak ada air ya panen gagal otomatis ketahanan pangan juga gagal kan mas, makanya lebih baik dananya dipakai buat mencari sumber sumber air misalnya atau membuat dana buatan dari sumber air tersebut jadi bukan hany tergantung dari air hujan namun benar benar dari sumber air, atau para petani penggarap itu dikasih subsidi buat pengembangan lebih lanjut bagi yang punya lahan garapan, sementara yang tidak memiliki lahan garapan kasih tanah garapan lahan lahan kosong yang kurang produktif itu kasih ke mereka berikut fasilitas air itu tadi, maka otomatis ketahanan pangan akan terjaga, la kalau polisi dan tentara di suruh bertani mereka ga bidang keilmuannya bukan disitu, disuruh garapan lahan ya bagaimana itu mas ?…itulah maksud saya, daripada dikasih dana usah mending dikasih fasilitas karena dengan adanya fasilitas itu bisa diserap dan langsung dirasakan oleh para petani, irigasinya di perbaiki, sumur sunur pompa diganti listrik, trus bagaimana solusi penanganan hama dan bagaimana persoalan cara pengaturan PH tanah bila sudah ada ketersediaan air, nah itu otomatis nanti akan petani akan panen mas, la kalau ga ada air ya sama saja ga panen trus ketahanan pangan yang bagaimana ?…ya ini sebatas opini artinya masukan ya buat pemerintah karena tidak semua daerah itu karakteristiknya sama, kalau untuk Daerah Majegan dan sekitar ini ya ke dalamnya di air itu aja mas,” jelasnya.
Ditanyakan kenapa Majegan kesulitan air sementara Desa Ponggok berlimpah Sri Widodo mengatakan ” Ya karena Daerah kita itu kan di atas Daerah Ponggok mas, benar memang Klaten daerah mata air, la tapi memang itu yang jadi kendala kami, sebab bila mau mengebor air itu dalam sekali mas, itupun kalau tidak pas dengan cekungan sungai yang punya tekanan air ke atas akan susah naiknya mas, sebab sungai bawah tanah di Majegan ini termasuk yang mengalir ke Daerah Ponggok dan sekitar itu deras sekali mas arusnya, jadi meskipun sudah di bor dari atas tetap air itu tidak bisa naik dan jalan terus ke bawah, makanya kaitannya dengan ketahanan pangan tadi ini loh persoalan air ini yang perlu diselesaikan dulu sebelum kita bicara banyak terkait ketahanan pangan, sebab kalau tidak ada air ya seperti tadi saya katakan tidak jadi panen mas.” Pungkasnya.
Agus STP salah seorang warga mengatakan “Ya inilah suara suara dari lapangan langsung yang semestinya di dengarkan oleh pemerintah, bahwa kebutuhan petani maupun masyarakat di tiap Daerah itu berbeda beda sesuai dengan karakteristik dan kondisi geografis lingkungannya, maka tidak bisa dipaksakan sebuah program harus berjalan sesuai dengan grand design pemerintah misalnya, semestinya harus ada kebijakan kebijakan berikut kearifan lokal dalam menyikapi hal hal yang terjadi di daerah seperti ini, okelah maksud pemerintah baik namun juga harus disesuaikan dengan kondisi dilapangan, Daerah Majegan ini produktif mas pertaniannya, salah satu lumbung pangan di Klaten, karena ada sekitar 160 hektar luasan areal pertanian dan itu digarap semua, hanya saja karena kendala air itu tadi dan juga faktor cuaca yang menyebabkan kita tidak bisa selalu menanam padi, dalam satu tahun paling hanya satu kali tanam padi berikutnya jagung atau ga tembakau, disamping juga karena permintaan pasar, ya kalau melulu harus padi ya itu tadi harus dipikirkan bagaiman persoalan dan kendala yang dihadapi bisa terselesaikan baru bisa produktifitasnya meningkat,” pungkasnya.
Begitulah menjelang sore kita pun berpamitan, lain waktu kita sambung lagi pak Sharing dan Diskusinya papar kami, sembari berpamitan.
( Pitut Saputra )
. . juga telah terbit di media:
Komentar
Posting Komentar